Friday, February 18, 2022

25 Ide Reward untuk Siswa Sekolah Menengah Atas

   





Pemberian reward pada siswa sering dilakukan pada tingkat sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama. Reward ini digunakan untuk mendorong perilaku positif siswa di sekolah yang secara tidak langsung juga meningkatkan hubungan siswa dengan guru. Namun, untuk tingkat sekolah menengah atas guru harus sedikit berpikir mengenai pemberian reward yang disukai oleh siswa. Berikut ini merupakan idea pemberian reward untuk siswa tingkat menegah atas yang penulis kumpulkan dari berbagai sumber di internet, semoga bisa menjadi inspirasi:
Share:

Sunday, February 13, 2022

Ketika Dia Tidak Tahu Kalau Dia Salah [Part 1]

  



"Bu, mohon bantuannya" beberapa siswa memohon.
"Ada apa?"
"Pak Koko tiba-tiba keluar dari kelas kami, karena si Jago berulah." jelasnya.
"Sudah menemui Pak Koko kah?" tanya guru penasaran.
"Sudah bu, katanya jangan temui saya!"
"Maksudnya, Pak Koko butuh waktu untuk menenangkan diri untuk saat ini."

Cara kita berbicara memilki dampak pada orang lain. Karenanya kita sebagai orangtua dan guru perlu berhati-hati dengan cara kita berbicara pada anak. Terutama cara kita memilih mengekspresikan diri dengan menggunakan bahasa yang menuduh ataukah dengan bahasa yang tegas.

Bahasa menuduh akan terlihat sebagai serangan bagi lawan bicara, sementara bahasa tegas dengan sangat jelas mengungkapkan perasaan kita yang sebenarnya dengan penuh hormat.

Salah satu ciri bahasa menuduh adalah menggunakan kata anda, kamu, kalian, mereka dalam percakapan, misalnya 'kamu harus' dan 'kalian jangan'. Hal ini akan membuat orang lain ingin membela diri.

Berikut ini merupakan contoh kejadian dan kalimat yang mungkin bisa ditemui ketika berhadapan dengan peserta didik:

Kalimat menuduh : Saya ingin kamu berhenti membuat saya marah
Kalimat asertif : Sejujurnya saya sangat terganggu dan sakit hati dengan sikapmu

Kalimat menuduh : Saya rasa kalian tidak peduli dengan keberadaan saya di kelas ini.
Kalimat asertif : Entah kenapa saya merasa sendiri dan tidak bisa terhubung dengan kalian ketika berada di kelas ini.

Kalimat menuduh : Jangan bersikap kasar!
Kalimat asertif : Saya juga ingin diperlakukan dengan baik.

Kalimat menuduh : Jangan berisik!
Kalimat asertif : Saya kesulitan untuk fokus jika ada suara ribut-ribut

Kalimat menuduh : Jangan menghubungi saya dulu!
Kalimat asertif : Saya butuh waktu untuk sendiri dulu

Kalimat menuduh : Kenapa kalian tidak memperhatikan penjelasan saya?
Kalimat asertif : Saya sedih ketika ilmu yang saya bawa serasa diremehkan, seolah-olah merasa sudah cukup ilmunya, sudah tahu masa depan seperti apa yang akan dihadapi nantinya.

Kalimat menuduh : Jangan malas! 
Kalimat asertif : Saya butuh usaha kalian untuk menyelesaikan tugas ini


#100harimenulisguru2022
#akumenulisuntukdiridannegeri
 
Share:

Curahan Hati Seorang Ibu Guru

  




Wanita itu namanya
Kata orang tempoe doloe dapur, sumur, kasur itu kehidupannya
Kini millenial jamannya
Tambah satu lagi urusannya
Kantor katanya
Pergi pagi, pulang petang aturannya
Mendidik anak bangsa itu tanggungjawabnya
Mencapai perkembangan yang optimal arahnya
Tapi kadang sedih rasanya
Melihat faktanya
Anak sendiri dititipkan pengasuhnya
Anak orang diasuh sebaik-baiknya
Anak sendiri dituntut kemandiriannya
Anak orang didampingi membimbingnya
Hingga anak sendiri terbiasa tanpa sosoknya 
Terbiasa yang mungkin juga dipaksakannya
Dipaksakan untuk rela 
Dan dipaksakan untuk tega
Padahal di masa-masa emasnya
Demi apa ya?
Begitulah ya pokoknya
Realita hidup di dunia Nya
Ada bersyukurnya
Pandemi momennya
Lebih banyak work form home nya
Pembalasan judulnya
Diplanning kegiatannya
Sampai stress anaknya
Karena tak biasanya
Dan karena terlalu menggebu-gebu ibunya
Sampai lelah dengan sendirinya
Karena tak sesuai harapannya
Hingga kesimpulannya
Nikmati momennya
Dengan bahasa kasih yang dibutuhkannya
Agar sampai ke hatinya
Dan terkenang di memorinya
Ada momen manis rupanya
Yang bisa diingatnya hingga tua
Saat di meja makan bersamanya
Saat membacakan dongeng sebelum tidurnya
Oh indahnya
Seperti ibuku dulunya
Yang lebih dulu menghadap Nya
Kini baru tahu rasanya
Tidak semudah itu ternyata
Hanya bisa memohon pada Nya
Semoga engkau selalu mendapatkan kebaikan dari Nya
Dimanapun engkau berada
Lebih dari kebaikan yang bisa ibu berikan pada mereka dan padaku anaknya


#100harimenulisguru2022
#akumenulisuntukdiridannegeri
  

Share:

Saturday, February 12, 2022

Agar Tekanan Tak Menjadi Halangan

 



"Mbak, hari ini dia ndak masuk," kata salah seorang guru yang bertugas absensi hari ini.
"Oke pak, terima kasih infonya."

Lagi-lagi anak bimbingan saya ini tidak masuk. 
Beberapa mingu ini dia memang  sering tidak masuk sekolah. 
Saya sampai hafal ritme harinya, tiap selasa.

Alasannya selalu sakit. Mulai dari sakit perut, pusing kepala, sampai badan lemas. 

Ternyata usut punya usut setelah diselami, ketidakhadirannya di sekolah adalah karena takut.

Dia merasa takut terhadap guru mapel tertentu karena pernah dimarahi, yang kebetulan jadwalnya adalah selasa.

Intinya dia menghindari hari selasa di jam pelajaran guru ini. 
Padahal di hari selasa, ada empat mapel. 
Itu artinya dia menghindari sumber masalah di hari selasa dengan mengorbankan mapel yang lain juga. 

Kejadian seperti ini sering saya temui di sekolah. 
Terlebih pada anak yang pendiam dan kurang mampu bersosialisasi dengan teman sekelasnya. 

Saya jadi ingat masa lalu saya ketika masih remaja, 
Ketika ada masalah yang benar-benar membuat saya tertekan dan tidak menemukan seseorang yang tepat untuk menceritakan permasalahan 
atau mungkin lebih tepatnya merasa orang lain tidak bisa mengatasi masalah saya. Saya lebih suka menjauh dari sumber masalah dan bahkan menghilang.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengambil sampel pada 36 siswa tentang hal apa yang mereka lakukan untuk mengurangi stress. 

Berikut ini merupakan 5 hal teratas yang mereka lakukan:
  • Tidur
  • Menyendiri
  • Dengerin musik
  • Makan
  • Nonton (TV, Youtube)
Ke lima cara di atas merupakan cara atau strategi untuk mengurangi stress yang dikenal dengan istilah Coping Mechanism 

Tapi ternyata cara-cara di atas menurut Frydenberg, penulis Adolescent Coping Scale, dikatakan sebagai cara-cara yang tidak produktif . 
Coping produktif itu adalah bagaimana ketika ada masalah kita masih aktif secara fisik dan terhubung dengan lingkungan sosial. 
Bukan malah nggak nyambung ketika diajak ngobrol, lemes tak bergairah, linglung, sering bengong, sensitif. 
Saya banget...hehe

Apa saja sih coping yang produktif itu? 
  • Physical Recreation,  berolahraga 
  • Seek Relaxing Diversion, terlibat dalam kegiatan rekreasi umum (bukan olahraga) sendiri atau bersama orang lain
  • Focus on the positive, mengelola untuk tetap berpandangan positif dan tetap ceria 
  • Accept One's Best Effort, menghargai setiap langkah kecil (usaha) untuk menyelesaikan masalah
  • Benefit Finding, mencari hikmah dibalik musibah
  • Root-Cause Solving, mencari akar masalah agar tidak terulang
  • Social Support, sharing tentang masalah kepada seseorang dan meminta dukungan tentang pengelolaannya
  • Focus on Solving the Problem, merefleksi masalah, merencanakan solusi, dan menangani masalah secara sistematis
  • Seek Profesional Help, meminta bantuan ahli seperti konselor
  • Spiritual Growth, menemukan cara untuk mengubah masalah agar tumbuh secara spiritual dan emotional

Kalau kata Jeff Bezos, presidennya Amazon, 


"Stress biasanya disebabkan karena tidak segera melakukan sesuatu terhadap hal yang sebenarnya bisa kita kendalikan. 
Jadi, bila aku merasa bahwa sesuatu membuatku stress, itu adalah sinyal peringatan untukku.
Yang berarti bahwa ada sesuatu yang belum kuidentifikasi sepenuhnya yang sebenarnya mengganggu pikiranku, namun aku belum melakukan apapun untuk mengatasinya.
Ternyata segera setelah masalah itu kuidentifikasi dan melakukan langkah kecil pertama, 
seperti menelepon seseorang atau mengirimkan email atau apapun yang perlu dilakukan untuk memulai mencari solusi untuk sebuah permasalahan,
walaupun belum langsung terpecahkan, tapi kenyataan bahwa aku telah memulai sesuatu (apapun itu) 
dapat mengurangi stress yang disebabkan oleh masalah tersebut

Jadi, stress sebenarnya datang karena sering mengabaikan/menunda masalah yang seharusnya segera diselesaikan."

Namun yang pertama dan paling utama adalah kesadaran diri untuk menerima diri bahwa 'Ok, saya sedang stress'. Dan memahami emosi primer mana (marah, sedih, takut, gembira, jijik, terkejut, malu, tertarik) yang memicu stress. Dengan begitu kita bisa mengambil tindakan yang paling membantu untuk meredakan situasi.

#100harimenulisguru2022
Share:

Membingkai Ulang Keyakinan [Part 2]



"Bu, tolong anak ini diberi pelajaran supaya jera." kata salah seorang guru yang konsultasi pada saya.
"Berkali-kali sudah saya peringatkan tetap saja tidak ada perubahan. Malah makin berani, malah makin tidak sopan." lanjutnya berapi-api.

Terkadang pikiran seseorang yang disampaikan dengan emosi secara tidak langsung akan mempengaruhi pikiran dan emosi kita juga. Namun, sebagai seorang konselor hal ini sangat melanggar kode etik. Karena dengan adanya prasangka akan mempengaruhi hubungan konselor dan konseli yang mengakibatkan rendahnya mutu layanan sehingga merugikan orang lain.

Karenanya berikut ini beberapa daftar positif yang bisa dijadikan panduan untuk mewujudkan keyakinan, perasaan, dan tindakan positif pada peserta didik. Sehingga kita bisa belajar untuk melihat perilaku 'negatif' pada peserta didik secara lebih positif dengan melihat perilaku mereka dari sudut pandang yang berbeda. Karena setiap situasi dan peserta didik memiliki kebutuhan yang unik.

(-)Bossy
(+)Punya bakat kepemimpinan

(-)Terlalu bergantung
(+)Penyayang, butuh ditemani

(-)Kompulsif(serba terencana)
(+)Teliti

(-)Sombong
(+)Percaya diri

(-)Pemarah
(+)Sedang stress, perlu menyampaikan apa yang dibutuhkan

(-)Penentang
(+)Punya prinsip, pemberani, butuh diakui

(-)Penuntut
(+)Asertif, To the point

(-)Dramatis
(+)Sadar secara emosional, expresif

(-)Penakut
(+)Hati-hati, pemikir

(-)Konyol
(+)Ceria

(-)Cerewet
(+)Pandai membedakan keinginan dan kebutuhan

(+)Terlihat bodoh
(-)Pandai menghibur

(-)Impulsif
(+) Spontan, bisa dipercaya

(-)Pemalas
(+)Butuh dibimbing

(-)Rame
(+)Periang

(-)Manipulatif
(+)Ingin dipenuhi kebutuhannya

(-)Brantakan
(+)Sedang berlatih

(-)Celometan
(+)Belajar mengekspresikan diri

(-)Nakal
(+)Mandiri, menjelajahi batasannya

(-)Tidak fokus
(+)Pemikir abstrak, memproses informasi

(-)Pendiam
(+)Penuh pertimbangan, reflektif

(-)Kaku
(+)Disiplin, mencari aman

(-)Sensitif
(+)Peka, sangat peduli

(-)Pemalu
(+)Menghargai kepercayaan

(-)Licik/ Curang
(+)Cerdik, kreatif

(-)Manja
(+)Dicintai

(-)Keras kepala
(+)Gigih

(-)Banyak bicara
(+)Komunikator yang baik

(-)Pengadu
(+)Mencari keadilan dan dukungan

(-)Pembantah
(+)Jujur



#100harimenulisguru2022
#akumenulisuntukdiridannegeri
Share:

Membingkai Ulang Keyakinan [Part 1]





"Saya ndak betah bu, saya ingin pindah kelas." keluh siswa padaku.
"Ingin pindah kelas sebabnya apa?" tanyaku.
"Saya merasa sendiri bu di kelas, saya rasa ndak ada anak yang mau berteman dengan saya."
"Mereka mungkin mengaggap saya aneh." 
"Aneh? Kenapa?" tanyaku lagi
"Mungkin karena saya suka menyakiti diri saya."

Keyakinan tentang diri memainkan peran besar dalam cara berpikir, merasa, dan bertindak setiap harinya. Jika kita percaya bahwa kita orang yang bodoh, jahat, atau tidak disukai, maka kita akan bertindak dengan cara yang membuat hal-hal itu menjadi kenyataan.  
Kalau dalam bahasa religi apa yang kita ucapkan dan yang kita pikirkan akan menjadi do'a yang dikabulkan. Karena Tuhan bersama prasangka hamba-Nya.

Ini menunjukkan pada kita bagaimana keyakinan tertentu dapat mempengaruhi tindakan kita sehingga membuat keyakinan itu  benar-benar terjadi. Keyakinan yang negatif akan menghasilkan hasil yang negatif. Keyakinan positif akan menghasilkan hasil yang positif pula.
Karenanya ketika keyakinan negatif muncul kita diminta untuk membingkai ulang keyakinan negatif menjadi keyakinan yang positif. Dalam psikologi teknik ini dikenal dengan istilah 'reframing'.

Ketika keyakinan negatif itu muncul cobalah untuk menjawab pertanyaan berikut ini:
  • Apa pemikiran yang lebih membantu?
  • Apa ada kemungkinan lain?
  • Apa yang akan dikatakan orang-orang yang peduli pada saya?
  • Apa kemungkinan terburuk yang bisa terjadi?
  • Jika sahabat saya memiliki pemikiran ini, apa yang akan saya katakan padanya?
  • Apakah saya yakin bahwa ini 100% benar?
  • Jika yang terburuk benar-benar terjadi, apa yang dapat saya lakuan untuk menghadapinya dan siapa yang dapat membantu saya?
  • Apa hasil terbaik yang mungkin terjadi?
Kegiatan memprogram ulang keyakinan ini sangat cocok dijadikan latihan pada siswa untuk membentuk afirmasi positif pada dirinya
  1. Minta siswa untuk menuliskan 3 keyakinan negatif nya
  2. Minta siswa untuk melihat keyakinan mereka dari sudut pandang yang lain sehingga lebih positif
  3. Minta siswa untuk merubahnya menjadi keyakinan yang positif
  4. Minta siswa untuk membacanya dengan keras untuk diri sendiri masing-masing 5x

Berikut ini adalah contoh merubah keyakinan negatif ke keyakinan positif

(-)Tidak ada seorangpun yang menyukai saya
(+)Orang perlu mengenal saya sebelum menyukai saya

(-)Semua ini kesalahan saya sehingga membuatnya kecewa
(+)Saya perlu meminta maaf dan memperbaikinya

(-)Saya selalu membuat kesalahan
(+)Saya adalah manusia

(-)Bagaimana jika orang-orang mentertawakanku?
(+)Saya akan ikut tertawa, karena itu akan melepaskan stress

(-)Saya seharusnya tidak membuat kesalahan
(+)Saya akan belajar dari kesalahan ini

(-)Saya tidak akan pernah bisa melakukan ini
(+)Saya akan mencobanya lagi lain waktu

(-)Saya orang yang jahat
(+)Saya orang yang punya prinsip

(-)Mengapa ini selalu terjadi pada saya
(+)Pelajaran apa yang bisa saya ambil

(-)Saya benci diri ini
(+)Saya perlu memaafkan diri ini

(-)Sekarang semuanya berantakan
(+)Saya akan memperbaiki kerusakan ini

(-)Hidup saya kacau
(+)Saya perlu menata jadwal kegiatan saya

(-)Tidak ada orang yang bisa mengerti saya
(+)Saya perlu menceritakan keadaan saya agar orang bisa mengerti

(-)Saya tidak bisa menghadapi masalah ini
(+)Jika saya bisa menghadapi masalah ini, saya bisa menghadapi masalah yang lainnya

(-)Saya benar-benar bodoh
(+)Saya menyadari kesalahan saya

(-)Tidak ada orang yang peduli
(+)Orang akan tahu perasaan saya jika saya memberitahunya apa yang saya butuhkan

(-)Saya orang yang gagal
(+)Kegagalan saya membantu saya untuk belajar dan tumbuh

(-)Saya belum pernah melakukan ini sebelumnya
(+)Ini kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru

(-)Saya terlalu malas untuk menyelesaikan ini
(+)Saya tidak bisa memasukkannya di jadwal tapi saya bisa memeriksa kembali beberapa prioritas



#100harimenulisguru2022
#akumenulisuntukdiridannegeri



Share:

Friday, February 11, 2022

Jika Perasaan Dapat Berbicara





Kesadaran emosional membantu kita mengetahui apa yang kita butuhkan dan inginkan atau tidak kita inginkan. Menyadari emosi dapat membantu kita membicarakan perasaan dengan lebih jelas, menghindari atau menyelesaikan konflik dengan lebih baik dan melewati perasaan sulit dengan mudah.

Namun masalahnya sebagian dari kita ada yang bahkan tidak tahu perasaan apa yang kita rasakan. Atau mungkin sudah tau perasaan apa itu, namun tidak tahu harus bersikap apa dengan perasaan yang muncul.

Berikut ini merupakan imajinasi penulis seandainya jika perasaan dapat berbicara.

Kesedihan mungkin memberitahuku, aku perlu menangis

Kesepian mungkin memberitahuku, aku perlu teman

Rasa malu mungkin memberitahuku, aku perlu mengasihi diriku

Kebencian mungkin memberitahuku, aku perlu memaafkan

Terganggu mungkin memberitahuku, aku perlu menjauh

Kehampaan mungkin memberitahuku, aku perlu melakukan sesuatu yang kreatif

Rasa marah mungkin memberitahuku, aku perlu memeriksa batasan-batasanku

Kecemasan mungkin memberitahuku, aku perlu bernafas

Stress mungkin memberitahuku, aku perlu melakukannya selangkah demi selangkah

Putus asa mungkin memberitahuku, aku perlu mencobanya lagi dengan benar 

Rasa takut mungkin memberitahuku, aku perlu menghadapinya

Merasa bersalah mungkin memberitahuku, aku perlu meminta maaf

Salah paham mungkin memberitahuku, aku perlu mengkomunikasikannya dengan jelas dan tegas

Rasa jijik mungkin memberitahuku, aku perlu menghindar

Kebingungan mungkin memberitahuku, aku perlu bertanya untuk meminta bantuan

Rasa iri mungkin memberitahuku, aku perlu bersyukur

Rasa lelah mungkin memberitahuku, aku perlu tidur

Terburu-buru mungkin memberitahuku, aku perlu membuat rencana

Kecewa mungkin memberitahuku, aku perlu menerimanya dan belajar darinya

Rendah diri mungkin memberitahuku, aku perlu menantang diriku 


#100harimenulisguru2022
#akumenulisuntukdiridannegeri



Share: